Sabtu, 27 April 2013

Mata dan Ikhsan


Oleh A Yamani Syamsuddin
Dalam sebuah hadits dikisahkan, pada hari kiamat ada sekelompok orang yang membawa hasanat (kebaikan) yang sangat banyak. Bahkan, Rasul menyebutkan kebaikan itu bagaikan sebuah gunung. Tapi ternyata, Allah SWT tak memandang apa-apa terhadap prestasi kebaikan itu. Allah menjadikan kebaikan itu tak berbobot, seperti debu yang beterbangan.
Rasulullah menyatakan kondisi seperti itu karena mereka adalah kelompok manusia yang melakukan kebaikan ketika berada bersama manusia yang lain, tetapi tatkala dalam keadaan sendiri dan tak ada manusia yang lain yang melihatnya ia melanggar larangan-larangan Allah SWT (HR Ibnu Majah).
Mereka itu adalah orang-orang yang riya. Mereka berbuat kebaikan karena dilihat oleh orang lain, bukan ikhlas karena Allah SWT.
Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Karena itu, hendaknya mata selalu dibawa melihat hal-hal yang baik.
Bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya, meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang. Demikian potongan nasihat Imam Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin.
Mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut. Yang pertama, mata memiliki kenikmatan pandangan. Sedangkan yang kedua, memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya sama penting, dan harus saling bekerja sama.
”Dalam dunia nafsu keduanya adalah suatu yang mesra. Jika terpuruk dalam kesulitan maka masing-masing akan saling mencela dan mencederai,” kata Ibnu Qayyim.
Kesendirian, kesepian, kala tak ada orang yang melihat perbuatan salah, adalah ujian yang akan membuktikan kualitas iman. Di sinilah peran mengendalikan mata dan kecondongan hati. Dalam suasana yang tak diketahui oleh orang lain, akan terlihat apakah seseorang itu imannya betul-betul tulus atau tidak.
Inilah yang digambarkan oleh Rasulullah ketika dia diminta menggambarkan apa itu ihsan, “Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya yakinilah bahwa Ia melihatmu.”
***
Semoga dalam setiap Amal Ibadah, kita diberi keikhlasan oleh Allah SWT. dan Ibadah kita di terima Oleh-Nya. Amien…

Kamis, 25 April 2013

obat galau

Ketika ku bersedih… 
Kepada siapa aku harus 
mengadu… 
Ketika hatiku lara… 
Kepada siapa aku menyalah… 
Hanya ada Allah ta’ala 
disampingku, yang selalu 
memberiku kekuatan… 
Memberi ku harapan akan 
terangnya dunia ini 
Ketika aku bersedih… 
Ingatlah tentang ini : 
Kenapa Rasa Frustasi? 
Al-Qur’an menjawab : 
“Janganlah kamu bersikap lemah 
dan jangan pula kamu bersedih 
hati, padahal kamu lah orang2 
yang paling tinggi derajatnya 
jika kamu orang2 yang 
beriman” (Surat Al-Imran : 139) 
Kenapa Aku tidak mendapat apa 
yang aku idamkan? 
Al-Quran menjawab : 
“Boleh jadi kamu membenci 
sesuatu padahal ia amat sangat 
baik bagi mu, dan boleh jadi pula 
kamu menyukai sesuatu, padahal 
ia sangat buruk bagimu, Allah 
mengetahui sedang kamu tidak 
mengetahui (Surat Al-Baqarah : 
216) 
Kenapa aku di uji? 
Al-Quran menjawab : 
“Apakah manusia itu mengira 
bahwa mereka dibiarkan saja 
mengatakan :”Kami telah 
beriman” sedang mereka tidak 
diuji? Dan sesungguhnya kami 
telah menguji orang-orang yang 
sebelum mereka, maka 
sesungguhnya dia mengetahui 
orang2 yang benar dan dia 
mengetahui orang2 yg 
dusta” (Surat Al-Ankabut : 2-3) 
Aku tak tahan!! 
Al-Quran menjawab : 
“…dan janganlah kamu berputus 
asa dari rahmat Allah. 
Sesungguhnya tiada berputus 
asa dari rahmat Allah melainkan 
kaum kafir” (Surat Yusuf : 12) 
Kenapa Ujian Seberat ini? 
Al-Qur’an menjawab : 
“Allah tidak membebani 
seseorang itu melainkan sesuai 
dengan kesanggupannya” (Surat 
Al-Baqarah : 286) 
Dan bagaimana aku harus 
menghadapinya? 
Al-Qur’an menjawab : 
“Dan mintalah pertolongan 
(kepada Allah) dengan jalan 
sabar dan mengerjakan shalat 
dan sesungguhnya shalat itu 
amatlah berat kecuali kepada 
orang2 yang khusyuk”(surat Al- 
Baqarah : 45) 
Kepada siapa aku berharap? 
Al-Quran menjawab : 
“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada 
tuhan selain dari Nya. Hanya 
kepada Nya aku 
bertawakal” (surat At-Taubah : 
129) 
Apa yang aku dapat dari semua 
ini? 
Al-Quran menjawab : 
“Sesungguhnya Allah telah 
membeli dari orang-orang 
mu’min, diri dan harta mereka 
dengan memberikan syurga 
untuk mereka…” (surat At- 
Taubah : 111) 
Dan selalu ingatlah ini : 
“… Allah SWT tidak menjanjikan 
langit itu selalu biru, bunga 
selalu mekar dan mentari selalu 
bersinar. Tapi ketahuilah bahwa 
Dia selalu memberi pelangi 
disetiap badai, senyum disetiap 
air mata, berkah disetiap cobaan 
dan jawaban disetiap doa…”

Balasan Dari Jenis Amal


Dari Abdurrahman As-Sulamy, dia berkata, “Aku masuk masjid, dan pada waktu yang sama Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berada diatas mimbar. Dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada salah seorang dari para nabi Bani Israel: Katakanlah kepada orang-orang yang taat kepada-Ku dari umatmu, `Janganlah mereka mengandalkan amal mereka, karena Aku tidak menggerakkan seseorang pada hari Kiamat saat hisab, kemudian Aku berkeinginan untuk mengazabnya melainkan Aku pun mengazabnya’. Katakan kepada orang-orang yang durhaka kepada-Kudari umat- mu, `Janganlah mereka putus asa, karena Aku mengampuni dosa-dosa besar, dan Aku tidak peduli. Tidak ada diantara penduduk kampung, tidak pula penduduk kota, dan tidak pula penduduk bumi, tidak pula orang khusus dan seorang wanita berada pada apa yang Kucintai, sehingga Aku pun berada pada apa yang dicintainya, kemudian dia beralih dari apa yang Kucintai kepada apa yang Kubenci, melainkan Aku juga beralih dari apa yang dicintainya kepada apa yang dibencinya. Sesungguhnya tidak ada dari penduduk kota, tidak pula penduduk bumi, laki-laki khusus maupun wanita, yang berada pada apa yang Kubenci, kemudian dia beralih dari apa-apa yang Kubenci kepada apa yang Kucintai, melainkan Aku juga beralih dari apa yang dibencinya kepada apa yang dicintainya’. Bukan termasuk golongan orang yang meramalkan keburukan atau meminta agar diramalkan baginya. Aku dengan akhlakku adalah bagiku.” (Diriwayatkan Ath- Thabrani di dalam Al-Ausath, di dalamnya ada Isa bin Muslim Ath Thahawy, yang menurut Abu Zar’ah, dia adalah lemah, sedangkan rijal yang lainnya tsiqat. Majma Az-Zawa’id, 1/307)
Mengkhawatirkan Amal lebih Berat daripada Amal itu Sendiri
Diriwayatkan dari Abud-Darda’, dari Rasulullah SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya mengkhawatirkan amal lebih berat daripada amal itu sendiri. Sesungguhnya seseorang benar-benar mengerjakan amal lalu ditetapkan baginya amal orang lain yang shalih yang dikerjakannya secara sembunyi-sembunyi, yang pahalanya dilipatgandakan tujuh pluh kali. Lalu syetan senantiasa menghampirinya hingga dia menceritakan amalnya kepada manusia dan dia suka dirinya disebut-sebut dan dipuji karena amalnya itu, sehingga amalnya ditetapkan sebagai amal yang dilakukan secara terang-terangan dan sebagai perbuatan riya’. Hendaklah seseorang yang menjaga agamanya, takut kepada Allah dan seseungguhnya riya’ itu merupakan syirik.” (Diriwayatkan Al-Baihaqi. Menurut Al-Hafizh Abdul-Azhim, hadits ini mauquf. At-Targhib, 1/3).
Orang yang Beramal untuk Mencari Ketenaran
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat ialah seseorang yang mati syahid. Dia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat- nikmatnya dan dia pun mengenalinya. Allah bertanya, `Apa yang kamu kerjakan didunia?’ Dia menjawab, `Aku berperang karena-Mu hingga aku mati syahid’. Allah berfirman, “Kamu dusta, tapi kamu berperang agar dikatakan, `Dia adalah seorang pemberani’. Maka memang begitulah yang dikatakan. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya agar dia ditelungkupkan wajahnya hingga dia dilemparkan ke neraka. Dan, seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkan serta membaca Al- Qur’an, dia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmatnya sehingga diapun mengenalinya. Allah berfirman, `Apa yang kamu amalkan di bumi?’ Dia menjawab, `Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an karena-Mu’. Allah berfirman, `Kamu dusta. Tapi kamu mempelajari ilmu agar engkau dikatakan orang yang berilmu, dan kamu membaca Al-Qur’an agar kamu dikatakan, `Dia adalah qari’, dan memang begitulah yang dikatakan. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya hingga dia ditelungkupkan pada wajahnya hingga dia dilemparkan ke neraka. Dan seseorang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberi-Nya berbagai macam harta, semuanya. Lalu dia didatangkan, lalu diperkenalkan nikmat-bnikmatnya kepadanya sehingga diapun mengenalinya. Allah berfirman, `Apa yang kamu kerjakan di dunia?’ Dia menjawab, `Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau suka jika di keluarkan shadaqah padanya, melainkan aku mengeluarkan shadaqah padanya karena-Mu’. Allah berfirman, `Kamu dusta’. tapi kamu mengerjakannya agar dikatakan, `Dia adalah orang yang dermawan’, dan memang begitulah yang dikatakan’. Kemudian Allah memerintahkannya hingga dia ditelungkupkan pada wajahnya kemudian dia dilemparkan ke neraka.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi dan An- Nasa’i).[*]
***
die *Khutbah-Khutbah Rasulullahh* Muhammad Khalil Al-Khatib
Abu Luthfia

Yang Lalu Biar Berlalu


Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih, atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu sama artinya dengan membunuh semangat, memupus tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.
Bagi orang yang berpikir, bekas-bekas masa lalu akan dilipat dan tak pernah kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ruang penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam penjara pengacuhan selamanya, atau diletakan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.
Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau dibawah payung gelap masa silam; selamatkan diri Anda dari bayangan masa lampau! Adakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ketempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke kelopak mata? Ingat; keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naïf, ironis, memperihatinkan, dan sekaligus menakutkan.
Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan mempuaskan m masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang demikian sangat berharga. Dalam Al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah; ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembal;i roda sejarah.
Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu. Syahdan nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian, “Janganlah engkau mengeluarkan mayat- mayat itu dari kuburnya.” Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, “Mengapa engkau tidak menarik gerobak?” “Aku benci khayalan,” jawab keledai.
Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing- puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.
Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak menuju ke depan. Maka dari itu, janganlah pernah melawan sunnah kehidupan!
***
die *La Tahzan* DR. Aidh al-Qarni

Tamasya ke Pintu-Pintu Surga


Surga bagi setiap muslimin adalah sesuatu yang sangat didambakan. Siapa yang tidak mau akan surganya Allah maka sesungguhnya telah menyalahi ajaran Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Karena diantara ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah untuk meminta surga dan dijauhkan dari adzab neraka yang sangat pedih. Setelah kita tahu bahwa sesungguhnya surga itu adalah rahmat dan karunia dari Allah Ta”ala maka ada baiknya kita tahu tentang surga. Bagaimana kita bisa masuk ke surga? Tentu saja melalui pintu surga.
Allah Subhanahu wa Ta”ala berfirman,“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka telah sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini, sedang kalian kekal didalamnya”.” (Az-Zumar:73).
Sedangkan tentang neraka Allah Subhanahu wa Ta”ala berfirman,“Sehingga apabila mereka telah sampai di neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya.” (Az-Zumar:71).
Pintu surga, ketika mereka berada di dekatnya, mereka mendapati pintu-pintu surga tertutup lalu mereka meminta kepada-Nya selaku pemilik dan penguasa agar surga tersebut dibukakan untuk mereka. Mereka meminta syafa”at kepada Allah dengan perantaraan rasul-rasul Ulul Azmi. Namun mereka semua menolaknya hingga kemudian para rasul menyuruh mereka menemui nabi terakhir yang paling mulia. Nabi terakhir tersebut berkata, Syafa”at ini adalah hak saya. Ia pergi ke bawah Arasy kemudian sujud kepada Rabbnya. Allah Subhanahu wa Ta”ala membiarkan sujud sampai waktu tertentu kemudian mengizinkannya mengangkat kepalanya dan mengajukan permohonannya. Lalu ia meminta syafa’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membukakan pintu-pintu surga-Nya dan Allah Ta’ala pun memberikan syafa’at kepadanya dan mengizinkannya membukakan pintu-pintu surga sebagai bukti keagungan surga, derajat rasul-Nya dan pemuliaan Allah Ta”ala kepadanya.
Pintu-pintu surga setelah para penghuninya memasukinya maka ia akan tetap selalu dibuka. Ini merupakan isyarat bahwa mereka bisa bergerak secara leluasa dan mondar-mandir di dalam surga semau mereka. Serta masuknya para malaikat setiap waktu kepada mereka dengan membawa hadiah-hadiah dan rezki-rezki untuk mereka dari Rabb mereka dan masuknya apa saja yang menggembirakan mereka setiap waktu. Juga di dalamnya ada isyarat bahwa surga adalah tempat yang sangat aman sehingga mereka di dalamnya tidak perlu menutup pintu rumahnya sebagaimana mereka menutup pintu rumahnya ketika di dunia.
Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, disebutkan hadits dari Abu Hazm dari Sahl bin Sa”ad bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,” Di surga terdapat delapan pintu. ada yang namanya Rayyan. Yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang puasa.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Zuhri dari Hamid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa berinfaq dengan sepasang unta atau kuda atau lainnya di jalan Allah, maka ia dipanggil dari pintu-pintu surga, Wahai hamba Allah, pintu ini lebih baik. Barangsiapa rajin shalat, maka ia dipanggil dari pintu sholat. Barangsiapa berjihad, maka ia dipanggil di pintu jihad. Barangsiapa rajin bershadaqoh, maka ia masuk dari pintu shadaqah. Dan barangsiapa puasa, maka ia dipanggil dipintu Rayyan. Abu Bakar berkata, Wahai Rasulullah, apakah setiap orang dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Adakah orang yang dipanggil dari kesemua pintu tersebut? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, Ya, dan aku berharap bahwa engkau termasuk dari mereka.” (Muttafaqun “Alaih).
Dalam Shahih Muslim disebutkan hadits dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,” Siapa diantara kalian yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu membaca, “Asyhadu an la ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu (Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)”. melainkan dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia masuk dari mana saja ia sukai.” (H.R.Muslim).
Utbah bin Abdullah As-Salami berkata bahwa saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika seorang muslim mempunyai tiga orang anak yang belum baligh kemudian meninggal dunia, maka mereka menjumpainya di pintu-pintu surga yang delapan dan bebas ia masuk dari pintu mana saja yang disukainya.” (H.R Ibnu Majah dan Abdullah bin Ahmad dari Numair yang berkata bahwa telah berkata kepada kami Ishaq bin Sulaiman yang berkata bahwa telah berkata kepada kami Jarir bin Utsman dari Syarkhil bin Syufah dari Utbah Radhiyallahu Anhu).
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata,” Dihidangkan semangkok roti yang dimasak dengan daging kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau mengambil dengan lengan kambing yang paling beliau gemari. Beliau menggigit lengan kambing tersebut sambil mengatakan, Aku adalah pemimpin manusia pada Hari Kiamat. Lalu beliau menggigit daging untuk kedua kalinya dan berkata, Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat. Ketika beliau melihat tidak ada sahabatnya yang bertanya kepadanya, beliau berkata, Kenapa kalian tidak bertanya, Bagaimana hal tersebut terjadi? Para sahabat berkata, Bagaimana hal tersebut dapat terjadi ya Rasullullah? Di akhir hadits Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, Aku datang di bawah arasy dan sujud kepada Rabbku. Rabb semesta alam menempatkanku ditempat yang belum pernah ditempati siapa pun sesudahku. Aku berkata kepada Rabbku, “Ya Rabbku, umatku dan umatku.” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, masukkan umatmu yang tidak dihisab lewat pintu sebelah kanan! Mereka bebas masuk pintu-pintu lainnya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Demi Muhammad yang jiwanya ada di Tangan-Nya, jarak antara dua daun pintu surga adalah seperti Makkah dan Hajar atau Hajar dan Makkah”.” (H.R. Bukhari, Ahmad dan Abu Uwanah).
Demikianlah sedikit penjabaran serta penggambaran tentang pintu-pintu surga yang telah dijelaskan oleh Rasul kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Semoga yang demikian ini menjadikan kita semua sadar akan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta”ala. Dan semoga kita semua dirahmati dan dikaruniai menjadi penghuni-penghuni surga dan kekal di dalamnya oleh Allah Subhanahu wa Ta”ala. Allahu A”lam.
***
  1. (Dikutip dari: Hadil Arwaah Ila Biladil Afraah, oleh Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)


Selasa, 23 April 2013

Teknik budidaya pembesaran lele ala Abah Nasrudin

Parameter dasar pembesaran ikan lele yang dipakai:
  • Kolam yang dipakai kolam tembok atau terpal dengan ukuran 10m2 atau contoh 2x5meter dengan tinggi sekitar 1 meter.
  • Bibit yang dipakai adalah ukuran 7/8
  • Padat tebar 100 ekor/m2 (untuk beginner) dan maksimal 150 ekor/m2 yang sudah profi
  • Tidak dilakukan pergantian air selama masa budidaya, kecuali karena penanggulangan penyakit
  • Lele panen pada ukuran 7-8ekor/kg

Persiapan air kolam:
  • Air bisa memakai air dari sumber manasaja, dengan syarat kadar besi rendah. Kalau air PAM wajib diendapkan dulu 1-3 hari, supaya koporit menguap.
  • Isi kolam hingga ketinggian 50cm
  • Beri pupuk kandang yang sudah diletakkan di dalam karung dan diikat serta digantungkan hingga setengah karung terendam dalam air. Jumlahnya adalan 1-1,5 kg/m2 atau untuk 10m2 berkisar 10-15 kg
  • Larutkan cairan herbal sebanyak 2 sendok makan dan dilarutkan dalam 2 liter air serta ditambahkan 4 sendok makan garam dapur kemudian ditebar rata. Larutan herbal hanya bisa didapatkan di Abah Nasruddin atau kadernya saja. (Ane tidak memakai pupuk kandang dan sebagai gantinya memakai pupuk organik cair supaya lebih simple)
  • Air akan berangsur-angsur menjadi hijau terang (pengalaman hari ke 4-5 akan kelihatan hijau), setelahnya akan semakin pekat.
  • Tunggu selama 8 hari dan kemudian angkat pupuk kandang dari kolam
  • Keesokan harinya benih siap ditebar (hari ke-9). Tebar pada pagi hari <11pagi atau sore >3sore. Ane pernah tebar jam 1 siang banyak yang sekitar patilnya jadi berwarna merah. Tebar secara perlahan dengan metode aklimatisasi selama 5-10menit dan usahakan lele keluar sendiri dari wadah.

Pemilihan benih
Benih bisa dari jenis apapun: sangkuriang, dumbo atuapun phyton, asalkan sehat dengan ciri-ciri sbb:
  • gerakan ikan aktif
  • Tidak terdapat luka
  • Kumit/sungut tidak patah
  • Sekitar patil tidak berwarna kemerahan
  • tidak ada white spot / bintik putih

Pemberian pakan:
  • Setelah ditebar, lele baru diberi makan setelah 12 jam kemudian, karena untuk adaptasi dan masih banyak makanan alami di kolam.
  • Tahap pertama menggunakan 781-1 atau setara sebanyak 3kg untuk 8-10 hari. Pelet diberikan 3x sehari.
  • Setelah pakan tersebut habis, tambahkan air kolam sebanyak 10cm
  • Tahap kedua menggunakan 781-2 atau setara sebanyak 5kg untuk 8-10 hari. Pemberian pelet dinaikkan menjadi 4x sehari.
  • Setelah habis, tambahkan air kolam sebanyak 10cm.
  • Tahap ketiga menggunakan 781 atau setara sebanyak 22kg untuk 8-10 hari dan pemberian pakan 5-6kali sehari,
  • Sama dengan sebelumnya, jika pakan sudah habis, maka air kolam ditambahkan ketinggiannya sebanyak 10cm.
  • Tahap keempat dilakukan pemberian pakan sebayak 70 kg hingga panen. Dapat dilanjutkan dengan memakai 781, akan tetapi untuk mengurangi biaya produksi dapat menggunakan pakan tenggelam seperti SNL/sinta ataupun menggunakan pakan alternatif seperti sosis bs, ayam tiren, ika runcah dsb.

Tips dalam pemberian pakan
  • Pakan dicampur terlebih dahulu dengan air matang secukupnya hingga lembab, supaya tidak melukai organ pencernaan lele dan menghindari pelet mengembang di perut yang mengakibatkan kembung. Ane campur dengan sedikit probiotik, supaya bisa lebih maksimal tercerna dan sedikit terbuang menjadi feses.
  • Usahakan pemberian pakan diatas jam 9 pagi dan dibawah jam 12 malam. Dan tunggu 1 jam untuk pemberian pakan setelah turun hujan. Dan jika terlihat akan turun hujan lebat, usahakan tidak memberi makan terlebih dahulu.
  • Usahakan jangan sampai ada pelet yang tersisa di dalam kolam, karena akan memperburuk kondisi air.

Panen
Pengalaman dari pemberi training mengatakan bahwa dari metode diatas akan diperoleh panen antara 130-140kg pada sekitar 50-60 hari setelah tebar bibit. Dengan kematian dibawah 5%.
Ane belum pengalaman sampai panen, baru 3 minggu tebar bibit.


Penyakit dan penganggulangan

Borok (luka di ekor, punggung...)
Penanggulangan:
Kuras air dasar sebanyak 1/4 bagian dan ditambahkan air baru.
Herbal 2 SDM per 1000 ekor ikan dilarutkan dengan air secukupnya dan dicampur ke pakan.(sekali saja)
Atau dengan kimia yaitu 4 kapsul Super tetra (bisa dibeli di apotek) dan ditebarkan ke kolam.(sekali saja)
Biasanya sembuh dalam 3-7 hari.


White spot (bintik putih)
Penanggulangan:
Kuras air 1/2 bagian dan isi air baru serta tambahkan herbal 1sdm dicampur dengan 2 sdm garam dan air
Atau dengan kimia yaitu 2 kapsul supertetra ditambah 1/4 sdt PK, dilarutkan ke air dan ditebar merata


Sirip merah (biasanya karena kepanasan saat memasukkan benih ke kolam)
Penanggulangan:
Sama seperti borok, tapi dosisnya hanya separoh.


Kembung
1. Karena asam lambung
Penganggulangan:
2 plastik arang dari kayu (jangan batok kelapa) dicampur herbal 2sdm dan garam 4 sdm dilarutkan dan direbus mendidih dengan air 1 liter. Masukkan hasil rebusan setelah hangat ke dalam kolam

2. Karena bakteri (kembung disekitar patil)
Penagnggulangan:
Ambil 2 ikat daun kemangi, blender larutkan ke air kemudian saring. Siramkan merata airnya ke kolam
Secara kimia memakai 1/2 sdt ENDRO

Bahagia Tanpa Hasad


Allah memberikan nikmat-Nya pada semua hamba-Nya, hanya pembagiannya tidak sama ada yang diberi banyak, ada yang sedikit. Semua itu untuk menguji para hamba-Nya dalam kehidupan dunia ini. Ujian ini bagaikan api yang membersihkan dan memisahkan emas dari campurannya. Dengan begitu dapat terlihat mana yang benar-benar beriman dan yang tidak. Alangkah ruginya kalau kita tidak mampu menghadapi ujian.
Adam VS Iblis
Karena perbedaan inilah, sering timbul sifat jelek seseorang terhadap orang lain. Dari persetruan awal, antara Adam dan iblis. Iblis melanggar perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena hasadnya terhadap Adam.
Ia merasa Allah tidak adil dalam perintah tersebut, bagaimana tidak? Dirinya yang -menurut iblis- lebih baik dan pantas dari Adam untuk mendapat kemuliaan, malahan diminta sujud padanya. Ia berkata, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah, “Saya lebih baik darinya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf:12)
Kemudian permusuhan orang kafir terhadap kaum mukminin, sehingga mereka mengerahkan segala kekuatan dan daya upaya untuk menjauhkan kaum mukmin dari keimanan, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya, “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah:109)
Apa itu Hasad
Hasad atau dengki adalah sifat seseorang yang tidak suka orang lain lebih darinya atau tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’Ala. Baik dengan keinginan nikmat tersebut hilang dari orang lain atau tidak, bila disertai perasaan ingin menghancurkan merupakan hasad tingkat tinggi dan paling jelek, seperti hasadnya Iblis kepada Adam.
Contoh hasad, misalnya tetangga kita memiliki kelebihan harta benda, anak atau istri yang cantik jelita, kedudukan dan nama baik di masyarakat, lalu kita iri dan dengki kepadanya, baik menjadikannya jelek, merusaknya ataupun tidak. Sifat hasad ini dapat membuat orang berbuat zhalim kepada tetangganya. Menyebar gosip dan menjelek-jelekkannya di depan orang lain. Tentu ini akan menjadikan suasana bermasyarakat yang tidak kondusif dan buruk sekali
Sepuluh Bahaya Hasad
Hasad sangat berbahaya, begitupun dampaknya di antaranya :
  1. Merupakan sifat orang Yahudi yang dilaknat Allah, siapa yang memilikinya berarti menyerupai mereka. Allah berfirman tentangnya, “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya. Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (An-Nisa:54).
  2. Orang yang memiliki sifat hasad tidak dapat menyempurnakan imannya, sebab ia tidak akan dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Rasulullah bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang kalian sampai mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya.” (Muttafaqun ‘alaihi). Bahkan lebih parah dari itu, orang yang hasad merasa sangat gembira bila saudaranya celaka dan binasa.
  3. Ada dalam sifat hasad ini ketidaksukaan terhadap takdir yang Allah berikan kepadanya. Bukankah yang memberikan nikmat hanya Allah Subhaanahu wa Ta’Ala? Seakan-akan ia ingin berperan aktif dalam penentuan takdir Allah dengan merasa bahwa ia lebih pantas mendapatkan nikmat tersebut dari orang lain.
  4. Setiap orang lain mendapatkan kenikmatan, semakin besar dan kuat api hasad dalam dirinya, sehingga ia selalu penasaran dan duka serta hatinya terbakar api hasad tersebut.
  5. Menimbulkan sikap egois yang tinggi dan tidak menyukai kebaikan pada orang lain.
  6. Hasad memakan dan melumat kebaikan yang dimilikinya sebagaimana api memakan dan melumat kayu bakar yang kering. Ini yang dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya, “Jauhkanlah (oleh kalian) dengki (hasad) karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (Riwayat Abu Daud).
  7. Menyusahkan diri sendiri, sebab ia tidak mampu mengubah takdir Allah Subhaanahu wa Ta’Ala, sedikitpun. Allah telah memberikan nikmat pada orang lain dan tidak akan tercegah dan terhalangi oleh ulah orang yang hasad tersebut. Walaupun ia berusaha dengan mencurahkan segala daya dan kemampuannya tidak akan mungkin mengubah takdir Allah yang sudah ditetapkan. Sehingga semua usahanya hanyalah sia-sia belaka.
  8. Hasad mencegah pemiliknya dari berbuat kebaikan dan kemanfaatan. Ia selalu sibuk memikirkan dan melihat milik orang lain sehingga seluruh hidupnya hanya untuk memikirkan bagaimana datangnya kenikmatan pada orang lain dan bagaimana menghilangkannya.
  9. Hasad dapat memecahkan persatuan, kesatuan, dan pesaudaraan kaum muslimin. Karena itulah Rasulullah bersabda, “Janganlah saling hasad dan jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah saling bermusuhan serta saling mendiamkan dan jadilah kalian bersaudara. (Riwayat Muslim).
  10. Hidupnya tidak pernah tenang dan tentram, apalagi bahagia. Orang yang hasad selalu dalam keadaan gundah-gulana dan resah melihat orang lain lebih darinya. Padahal mesti ada orang lain yang memiliki kelebihan darinya.
Alangkah mengerikan bahaya dan kerusakan yang diakibatkan oleh dengki (hasad). Sudah semestinya kita berusaha menanggalkan dan menghilangkan dari diri kita.
Sepuluh Kiat
Setelah mengetahui bahayanya, tentunya kita harus berusaha menghindari dan menjauhkan diri dari sifat yang satu ini. Untuk itu perlu melihat kiat-kiat berikut :
  1. Belajar dan memahami Aqidah Islam yang benar, baik tentang keimanan ataupun syariat serta mengamalkannya.Kebenaran aqidah merupakan sumber segala perbaikan dan kebaikan. Hal ini dilakukan dengan senantiasa menggali kandungan Al-Qur’an dan Hadits.
  2. Memahami dengan benar konsep takdir menurut syariat Islam, sehingga paham kalau segala kenikmatan dan rezeki tidak lepas dari ketentuan takdir Allah. Dengan memahami ini diharapkan tidak timbul dalam diri kita rasa iri dan dengki terhadap orang lain.
  3. Meyakini dengan benar dan kokoh bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan diberikan kepada setiap orang sesuai dengan hikmah yang diinginkan-Nya. Sebab tidak semua kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain itu untuknya.
  4. Membersihkan hati dengan berusaha mengamalkan seluruh syariat Islam.
  5. Memandang dunia dengan segala perhiasannya sebagai sesuatu yang akan punah dengan cepat dan tidak seberapa dibanding akherat. Demikian juga tujuan akhir kehidupannya adalah akhirat yang kela abadi, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’Ala, “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanamannya yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir, Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (Yunus:24-25).
  6. Selalu mengingat bahaya hasad bagi kehidupan dunia dan akhiratnya.
  7. Selalu menanamkan dalam hatinya kewajiban mencintai saudaranya, sehingga tidak merasa panas melihat saudaranya lebih baik darinya dalam permasalahan dunia. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya seustau yang ia cintai untuk dirinya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).
  8. Berusaha memenuhi hak-hak saudaranya sesama muslim dan mencari teman baik yang mengingatkan dan menasehatinya.
  9. Selalu mengingat kematian dan pembalasan Allah atas kezhaliman dan kerusakan yang ditimbilkan hasad tersebut.
  10. Mengingat keutamaan zuhud dan lapang dada terhadap nikmat yang Allah anugerahkan kepada orang lain serta kewajiban bersyukur terhadap nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Semua ini akan menimbulkan sifat qana’ah (menerima) dan kaya hati. Sifat qana’ah dan kaya hati yang akan membawanya kepada sifat iffah dan taqwa. Mudah-mudahan dengan selalu berusaha menjauhi dan meninggalkan sifat hasad ini kita semua dimudahkan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
***
Sumber : Diketik kembali oleh Ummu ‘Umar dari Majalah Nikah Vol.3, No.9, Desember 2004
jilbab.or.id
Written by Al-Ustadz Khalid. Kamis, 11 Mei 2006